SETIAP tradisi agama dan kepercayaan memiliki konsep yang
khas mengenai penciptaan dan mengapa kita (manusia) ada di dunia. Perdebatan dan diskusi mengenai awal dan
semua yang ada di dunia ini, selalu menjadi suatu topik yang menarik. Kali ini sebagai seorang yang menggeluti
bidang filsafat-teologi, saya ingin membagikan
mengenai keberadaan manusia ditinjau dari sudut pandang mistikus
Kristiani. Tentu saja ada banyak aliran di dalam Kristen itu sendiri, dengan
berbagai macam sistem teologi dan Kristologi dari awal zaman rasul itu
sendiri. Kali ini saya hanya akan
membahas salah satu sistem teologi , yaitu dari aliran ‘New Thought’. Thus,
saya lebih suka menyebutnya sebagai mistikus Kristiani.
Kata mistik di sini, jangan disamakan dengan istilah klenik.
Tetapi lebih merujuk pada kata ‘misteri’, suatu pencarian. Mistikus lebih diidentikan sebagai seorang
yang melakukan pencarian ke dalam diri, pengenalan batin, olah diri. Mistikus
ada di berbagai tradisi lintas iman dan kepercayaan, dogmatik dan non-dogmatik,
agama dan non agama, masing-masing punya
suatu konsep pemikiran yang khas.
Mari kita mulai dari apa yang disebut ‘Kitab Suci’. Kitab
Suci sejatinya adalah suatu warta iman dari pengalaman batiniah serta sudut
pandang sang penulis. Bukanlah suatu rahasia
lagi, kendati banyak memuat rincian sejarah,
tidak semua isi Kitab Suci harus dipandang sebagai suatu hal
faktual. Ada banyak bahasa simbol-simbol
di sana, berusaha menjabarkan suatu fenomena dengan bingkai mitologi. Thus,
semua itu lagi-lagi adalah alat yang digunakan untuk menjabarkan maksud
teologis sang penulis.
Pemahaman isi Kitab Suci hanya dari sudut pandang
tekstual/literal adalah suatu bentuk pengkerdilan. Berbagai perdebatan mengenai ajaran agama yang
dianggap anti-ilmu pengetahuan dan kontra sejarah, banyak disebabkan oleh
pemahaman isi Kitab Suci yang tidak pada tempatnya, salah satunya penafsiran
Kitab Suci yang telalu literal. Padahal
hakekat utama Kitab Suci bukan ditujukan sebagai kumpulan jurnal ilmu penetahuan atau buku
sejarah. Untuk itu, isi Kitab Suci akan lebih berguna jika dipahami secara
kontekstual.
Pada mulanya—bukan merujuk pada waktu, hanya awal rangkaian
penjelasan saya saja di tulisan ini—adalah Bukan Apa-apa (Nothing), Tidak
Terdefinisikan; saya lebih suka menyebutnya dengan istilah Hakekat. Pada saat
itu belum ada yang disebut materi, jadi
ya dapat dikatakan Bukan Apa-apa (Nothing).
‘Hakekat’ inilah yang disebut sebagai Tuhan. Sebenarnya istilah Tuhan pun di sini kurang
begitu tepat, karena Tuhan sering dipersonifikasikan sebagai sosok,
pribadi.
Istilah Tuhan itu adalah istilah dalam lingkup dimensi yang
terbatas. Padahal Tuhan bukanlah sesuatu
yang ada, tidak bertempat di sini atau
di sana. Tuhan dalam filosofi Timur sering didefinisikan sebagai Knowledge (terj
bebas: Pengertian). Golongan spiritualis menyebutnya sebagai Kesadaran. Jikalau bisa dipadankan dengan terminologi
ilmu pengetahuan, ‘Tuhan’ di sini adalah energi itu sendiri, yang kekal. Ingat pelajaran di sekolah? Hukum kekekalan
energi mengatakan bahwa energi tidak
dapat diciptakan dan tidak dapat dimusnahkan (KEKAL), energi hanya BERUBAH dari bentuk satu ke
bentuk lainnya.
Tuhan yang adalah Pengertian ini, ingin memiliki Experience (Pengalaman). Sebagai bentuk Pengertian , Ia tahu segalanya, namun ingin
mengalami diri-Nya sendiri. Lalu muncul
pertanyaan, bagaimana caranya agar Ia dapat mengalami diri-Nya sendiri? Ia
mulai menjelma menjadi Semesta melalui peristiwa yang bisa jadi diistilahkan
sebagai ‘Dentuman Besar’.
Dari sudut pandang
spiritualitas, pada saat itu, Ia mulai membentuk dualitas. Karena hanya dalam dualitaslah, pengalaman
itu terjadi. Dalam dualitaslah, Ia dapat
mengalami diri-Nya. Lihatlah semua yang ada di sekitar kita, juga yang kita
alami—semua tak lain merupakan dualitas.
Barat ada karena ada timur, utara ada karena ada selatan. Lebih lanjut:
Ada kelahiran, ada kematian. Ada sehat, ada
sakit.
Begitu pula dalam mitologi dan konsepsi keagamaan.
Ada surga, ada neraka. Ada malaikat, ada iblis. Ada kebaikan, ada
kejahatan. Kalau kita bisa melihat semuanya melampaui dualitas, semuanya
hanyalah ‘tools’ untuk merengkuh pengalaman batin. Kalau bisa melihat semua
itu, kita tidak akan lagi melihat antar agama terkotak-kotakan, namun ada
benang merah yang bisa diambil.
Di dalam cara berpikir manusia pun, secara konsep tertanam
dualitas. Mencari kebahagiaan dan menghindari penderitaan. Kita sehari-hari hidup
dalam ranah ini. Hanya saja, kita seringkali gagal di dalam memaknai apa yang
benar-benar membahagiakan itu sendiri.
Baik, saya tekankan ini, Anda ada di dunia sebagai Tuhan yang
sedang mewujud sebagai manusia. Semua ini hanya untuk sementara. ‘Pengertian’ itu sedang membentuk pengalaman.
Jangan salah memahami, bukan berarti anda sedang belajar di dunia ini. Anda sejatinya sudah memiliki pengertian
tersebut, yang anda perlukan adalah menyadarinya, di dalam diri anda. Dan
dengan menyadari pengertian tersebutlah,
anda bisa melakukan apa yang dari
awal Anda inginkan (perhatian perbedaan huruf awal kapital dan non kapital yang
saya tulis pada kata Anda/anda).
Singkatnya, anda ada untuk mendemonstrasikan apa yang telah Anda
ketahui.
Apa itu? Bagaimana kita bisa mengetahui sedang melakukan apa
yang semestinya? Jawabannya adalah cinta.
Di dalam diri anda, ‘Pengertian’ itu sudah ada lewat suara hati. Terkadang Ia berkata-kata bukan lewat
kata-kata, malah lebih sering lewat perasaan itu sendiri. Ya, perasaan adalah
bahasa-Nya Tuhan. Ada suatu perasaan
lapang, damai; semua adalah salah satu tanda bahwa anda sedang melakukan apa
yang semestinya. Apa yang anda perbuat itu jugalah yang menuntun diri anda pada
kebahagiaan sejati.
Akan tetapi , semua tidak hanya berhenti di situ. Hanya
mencari kebahagiaan, anda akan tetap berada dalam dualitas. Tugas anda belum
tuntas, anda harus kembali kepada diri Anda. Semua ada siklusnya, sesuatu yang
disebut sebagai ‘Triuni’. Skema ini hampir ada di dalam proses segala
sesuatu. Tradisi keagamaan, ada yang
menggambarkannya sebagai Tritunggal, tentu saja inipun hanya bahasa simbolis
saja.
Allah Bapa adalah ‘Pengertian’ itu sendiri, sumber segala
pengetahuan. Putera adalah kehadiran yang mendemonstrasikan ‘Pengertian’. Dan
Roh Kudus adalah pelebur antara ‘Pengertian’ dengan ‘Pengalaman’.
Skemanya: Knowing àExperiencing
à Non-Being.
Skema (mandala) ‘Triuni’ ini juga ada di banyak hal. Pada
tubuh ada daging, jiwa, dan inferensi. Pada psikologi ada superconscious
(kesadaran universal), conscious (alam sadar), dan subconscious (alam bawah
sadar). Perjalanan waktu past, present, dan future.
Begitu pula dengan kehidupan ini. Untuk terlepas dari dualitas, kembali kepada
kesejatian diri, anda harus melepaskan pengertian dan pengalaman. Istilahnya adalah mengosongkan cawan, menuju
apa yang di sebut sebagai pencerahan. Di titik inilah anda telah memenuhi tugas
anda.
Skemanya kira-kira seperti ini:
Hakekat à
Kehidupan à
Pencerahan
Bukan Apa-apa à
Dualitas à
Non dualitas
Mungkin banyak yang bertanya-apa, apa itu non dualitas?
Apakah berarti kita mati? Tentu saja tidak. Kalau merujuk hukum kekekalan
energi di awal, kalau meyakini dibalik semua yang ada adalah energi, maka tidak
ada kata ‘kematian’. Hanya ada perubahan terus-menerus. Penggambaran keadaan
pencerahan tersebut adalah seperti air danau yang tenang, tidak lagi terikat
pada pengertian maupun pengalaman. Inilah kebijaksanaan tertinggi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar