Kalau dingat-ingat, buku Haruki Murakami yang saya baca
pertama kali adalah ‘Kafka on the Shore’.
Tapi, baru kali ini, tertarik untuk membahas buku-bukunya Murakami sensei. Yang
membuat saya tertarik dengan sosok Haruki Murakami adalah beliau salah satu penulis
internasional yang banyak memuat unsur eksistensialisme dalam tulisannya.
Karena saya sendiri adalah seorang eksistensialis. Meskipun, memang, dalam gaya penulisan, ia
memainkan teknik sastra postmodern. Beberapa sudut pandang dalam satu cerita, memberikan
pembaca tafsiran sendiri ketika membaca, serta alur yang melompat-lompat—merupakan
sesuatu yang biasa ditemui dalam bukunya.
Ketika membaca ‘Kafka on the Shore’ saya langsung dibuat jatuh hati pada untaian kalimat di
halaman-halaman awalnya:
Terkadang jalan kehidupan seperti badai pasir kecil yang terus berubah arah. Kau berusaha mengubah langkahmu, namun badai pasir itu mengejarmu. Kau berbalik lagi, namun badai pasir itu turut mengikuti. Berkali-kali kau berusaha menghindarinya, seperti sebuah tarian tak berkesudahan sebelum kematian datang. Kenapa? Karena badai tersebut bukanlah sesuatu yang berhembus dari kejauhan, sesuatu yang tidak ada urusan denganmu. Badai itu adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang berasal dari dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan adalah menyelaminya, melangkah ke dalam badai itu, pejamkan matamu dan tutupi telingamu sehingga badai itu tidak mengganggumi, dan berjalanlah melewatinya, selangkah demi selangkah. Tidak ada cahaya matahari di sana, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada pengenal waktu. Hanya pasir putih biasa yang berkelebat menuju angkasa seperti bubuk dari tulang-belulang yang telah hancur. Itulah jenis badai yang perlu kau bayangkan.
Dan setelahnya, seakan saya terus tergoda untuk membaca
halaman demi halaman. ‘Kafka On The
Shore’ membawa kita masuk ke suatu dunia misterius, dimana logika umum tak
dapat digunakan. Ada banyak hal ganjil yang dapat kita temukan di dalamnya,
seperti seorang kakek yang dapat berbicara dengan kucing, hujan ikan dari
angkasa tanpa suatu penjelasan yang jelas, lalu ada juga hujan lecis dari angkasa sampai menenggelamkan
seseorang.
Yang paling ajaib adalah Kolonel Sanders muncul di dalam
dunia. Saya ngakak sewaktu sampai di
bagian ini. Kalian tentunya tahu Kolonel Sanders, bukan? Maskot dari restoran
cepat saji KFC. Ia bukan hadir sebagai seorang maskot yang mempromosikan
sesuatu, namun ada sebagai penghubung di
dalam cerita. Lho kok bisa? Silakan saja baca sendiri. Kalian mungkin mengira
kisahnya merupakan cerita fantasi. Yang jelas memang karya fiksi, tetapi lebih
pas diberikan istilah surealisme. Dunia di dalam ‘Kafka on the Shore’ pada dasarnya dunia biasa yang kita hidupi
sehari-hari, namun berbagai kejanggalan yang ada diceritakan secara natural.
Tidak seperti karya bergenre fantasi, dimana misalnya dalam buku Harry Potter
karya J.K. Rowling ada sekolah sihir, lalu secara jelas dinyatakan memang para
penyihir itu memang nyata.
Tokoh utama cerita ada dua orang. Yang pertama adalah Kafka.
Inipun penamaannya mengingatkan saya terhadap tokoh penulis terkenal dunia
Franz Kafka. Dan karya-karyanya sendiri terkenal bertemakan eksistensialisme.
Kafka di dalam buku Murakami sensei, merupakan seorang remaja pria yang melarikan diri dari rumah.
Petualangan selanjutnya memproses dirinya menjadi remaja paling tangguh di
dunia. Tokoh utama lainnya adalah Nakata, seorang kakek yang digambarkan
bukanlah sosok yang cerdas, namun mengemban suatu misi besar. Ada lagi sebenarnya tokoh penting bernama
Hoshino, tetapi perannya baru menonjol di akhir kisah.
Hal menarik lainnya yang tak dapat saya lupakan dari ‘Kafka on The Shore’ adalah keberanian
penulis dalam menyuguhkan hubungan asmara yang tidak biasa. Benar-benar tidak
mau terperangkap dalam persepsi moral masyarakat umum. Saya merasa seorang
penulis memang seharusnya seperti itu, berusaha menyuguhkan sudut pandang yang
tidak biasa.
Jika kalian adalah orang-orang yang belum pernah membaca
karya dari Haruki Murakami, namun penasaran seperti apa sih karyanya, saya
sarankan buku ‘Kafka on The Shore’
bisa menjadi pengantar yang bagus. Happy
reading!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar