Kamis, 05 Mei 2016

Kafka on the Shore: Kepiawaian Murakami Dalam Surealisme

Kalau dingat-ingat, buku Haruki Murakami yang saya baca pertama kali adalah ‘Kafka on the Shore’. Tapi, baru kali ini, tertarik untuk membahas buku-bukunya Murakami sensei. Yang membuat saya tertarik dengan sosok Haruki Murakami adalah beliau salah satu penulis internasional yang banyak memuat unsur eksistensialisme dalam tulisannya. Karena saya sendiri adalah seorang eksistensialis.  Meskipun, memang, dalam gaya penulisan, ia memainkan teknik sastra postmodern. Beberapa sudut pandang dalam satu cerita, memberikan pembaca tafsiran sendiri ketika membaca, serta alur yang melompat-lompat—merupakan sesuatu yang biasa ditemui dalam bukunya.

Ketika membaca ‘Kafka on the Shore’ saya langsung dibuat jatuh hati pada untaian kalimat di halaman-halaman awalnya:

Terkadang jalan kehidupan seperti  badai pasir kecil yang terus berubah arah. Kau berusaha mengubah langkahmu, namun badai pasir itu mengejarmu. Kau berbalik lagi, namun badai pasir itu turut mengikuti. Berkali-kali kau berusaha menghindarinya, seperti sebuah tarian tak berkesudahan sebelum kematian datang. Kenapa? Karena badai tersebut bukanlah sesuatu yang berhembus dari kejauhan, sesuatu yang tidak ada urusan denganmu. Badai itu adalah dirimu sendiri.  Sesuatu yang berasal dari dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan adalah menyelaminya, melangkah ke dalam badai itu, pejamkan matamu dan tutupi telingamu sehingga badai itu tidak mengganggumi, dan berjalanlah melewatinya, selangkah demi selangkah. Tidak ada cahaya matahari di sana, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada pengenal waktu. Hanya pasir putih biasa yang berkelebat menuju angkasa seperti bubuk dari tulang-belulang yang telah hancur. Itulah jenis badai yang perlu kau bayangkan.


Dan setelahnya, seakan saya terus tergoda untuk membaca halaman demi halaman. ‘Kafka On The Shore’ membawa kita masuk ke suatu dunia misterius, dimana logika umum tak dapat digunakan. Ada banyak hal ganjil yang dapat kita temukan di dalamnya, seperti seorang kakek yang dapat berbicara dengan kucing, hujan ikan dari angkasa tanpa suatu penjelasan yang jelas, lalu ada juga hujan  lecis dari angkasa sampai menenggelamkan seseorang.

Yang paling ajaib adalah Kolonel Sanders muncul di dalam dunia.  Saya ngakak sewaktu sampai di bagian ini. Kalian tentunya tahu Kolonel Sanders, bukan? Maskot dari restoran cepat saji KFC. Ia bukan hadir sebagai seorang maskot yang mempromosikan sesuatu,  namun ada sebagai penghubung di dalam cerita. Lho kok bisa? Silakan saja baca sendiri. Kalian mungkin mengira kisahnya merupakan cerita fantasi. Yang jelas memang karya fiksi, tetapi lebih pas diberikan istilah surealisme. Dunia di dalam ‘Kafka on the Shore’ pada dasarnya dunia biasa yang kita hidupi sehari-hari, namun berbagai kejanggalan yang ada diceritakan secara natural. Tidak seperti karya bergenre fantasi, dimana misalnya dalam buku Harry Potter karya J.K. Rowling ada sekolah sihir, lalu secara jelas dinyatakan memang para penyihir itu memang nyata.

Tokoh utama cerita ada dua orang. Yang pertama adalah Kafka. Inipun penamaannya mengingatkan saya terhadap tokoh penulis terkenal dunia Franz Kafka. Dan karya-karyanya sendiri terkenal bertemakan eksistensialisme. Kafka di dalam buku Murakami sensei, merupakan seorang  remaja pria yang melarikan diri dari rumah. Petualangan selanjutnya memproses dirinya menjadi remaja paling tangguh di dunia. Tokoh utama lainnya adalah Nakata, seorang kakek yang digambarkan bukanlah sosok yang cerdas, namun mengemban suatu misi besar.  Ada lagi sebenarnya tokoh penting bernama Hoshino, tetapi perannya baru menonjol di akhir kisah.

Hal menarik lainnya yang tak dapat saya lupakan dari ‘Kafka on The Shore’ adalah keberanian penulis dalam menyuguhkan hubungan asmara yang tidak biasa. Benar-benar tidak mau terperangkap dalam persepsi moral masyarakat umum. Saya merasa seorang penulis memang seharusnya seperti itu, berusaha menyuguhkan sudut pandang yang tidak biasa.


Jika kalian adalah orang-orang yang belum pernah membaca karya dari Haruki Murakami, namun penasaran seperti apa sih karyanya, saya sarankan buku ‘Kafka on The Shore’ bisa menjadi pengantar yang bagus. Happy reading!

Tidak ada komentar: