Rabu, 24 Juli 2013

Pandeisme: Teologi Tuhan Kehabisan Energi

AKHIR-akhir ini saya sangat tertarik mempelajari beragam teologi kontemporer yang berkembang semenjak era rennaisance. Berikut ini, saya akan mencoba mengangkat mengenai teologi pandeisme. Apa itu teologi pandeisme? Bagi kekeristenan arus mayoritas dan utama, tentu saja faham ini dianggap bidat, tapi tentu tetap menarik dipelajari untuk menambah wawasan.

Ada tiga istilah yang agak mirip, yaitu panteisme, panenteisme, dan pandeisme. Ketiganya memiliki arti yang agak mirip, tapi berbeda konsep. Biar saya jelaskan singkat satu-persatu. Panteisme merupakan suatu faham bahwa segalanya adalah Tuhan, perkembangan dari filsafat monisme yang menganggap entitas Tuhan berkembang menjadi segalanya. Di dalam panteisme, Tuhan di sini tidaklah berarti personal, memiliki sifat atau kehendak. Tuhan adalah semesta kosmik--manusia, makhluk hidup, benda mati, segala yang ada disekitar kita. Panenteisme merupakan faham bahwa Tuhan termanifestasi dalam alam (mirip panteisme), tapi Tuhan juga transenden yang melingkupi semesta. Panenteisme memungkinkan personalitas Tuhan dengan suatu kriteria. Semesta memanifestasikan Tuhan di satu sisi (imanen), tapi di sisi lainnya Tuhan juga melingkupi semesta (transenden). 

Sekarang masuk pada pokok bahasan pandeisme. Di dalam pandeisme, Tuhan adalah semesta (mirip panteisme), tapi sebagai manifestasi semata, di dalam karya Tuhan itu nonaktif. Sebenarnya, pandeisme merupakan respon kritik akan faham panteisme Hinduisme yang melanda barat. Henry Grattan Guinness memandang panteisme terlalu naif. Dengan filsafat, Tuhan adalah segalanya & segalanya adalah Tuhan, dipandang olehnya terlalu mengillahikan segalanya. Kalau segalanya bersifat illahi maka hal tersebut sama saja menihilkan arti illahi. Dengan pengertian Tuhan adalah segalanya, tetapi entitas illahi nonaktif--entitas manifestasinya yang aktif--Tuhan tetap menjadi sesuatu yang sakral. Jadi, pandeisme adalah pengkombinasian antara panteisme dan deisme. Sekedar catatan, deisme sendiri merupakan faham akan adanya Tuhan yang menciptakan semesta lalu tak terlibat lagi dalam perkembangan di dalamnya.

Jumat, 11 Januari 2013

Evolusi Konsep Ketuhanan Memungkinkan Ateis Beragama


SEBAGAI seorang penggemar filsafat, terkadang menghabiskan waktu luang untuk membaca literasi atau buku filsafat, menjadi aktivitas yang menyenangkan buat saya. Entahlah, memahami konsep berpikir beberapa orang, cara mereka membangun wacana, ataupun idealisme yang dipegang mereka—menjadi suatu bahan perenungan tersendiri. Filsafat memang tidak selalu memberikan jawaban pasti seperti halnya science, tetapi filsafat menjadi suatu alat yang dapat digunakan untuk memenuhi dahaga akan keingintahuan dan kekritisan.

Ketika selesai membaca suatu konsep mengenai idealisme kaum ateis, tiba-tiba saya tertarik untuk membuat sebuah tulisan singkat. Mungkin bukan suatu risalah filsafat yang mumpuni, tapi hanya ingin mendiskusikan suatu wacana yang terbesit di pikiran ini.

Pada umumnya, kita mengenal kaum ateis sebagai penolak konsep ketuhanan. Beberapa orang bahkan menyebutkan ‘tuhan telah mati’ sebagai reaksi akan konsep keagamaan yang menurut mereka sudah tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia. Mereka percaya kalau diri mereka memiliki hak sepenuhnya menentukan takdir sendiri. Merenungkan hal-hal tersebut, saya menjadi berpikir, apakah seorang ateis itu akan selalu hidup tanpa tuhan?

Lebih lanjut saya mendapatkan ada tiga konsep dasar yang dipegang kaum ateis dalam menegaskan posisi mereka. Pertama, mereka tidak percaya akan adanya suatu pribadi atau zat yang menciptakan semesta, akan suatu oknum mahakuasa yang memiliki peran sentral dalam kehidupan. Kedua, mereka menolak konsep surga dan neraka. Ketiga, mereka juga tidak mempercayai konsep alam roh, akan adanya suatu makhluk yang disebut iblis, malaikat, ataupun jin.

Tiba-tiba suatu pemikiran usil muncul begitu saja di dalam kepala ini. Kalau seandainya ada konsep ketuhanan yang bisa mengakomodasi ketiga hal di atas, lalu mungkinkah seorang ateis hidup beragama? Tentu konsep ketuhanan yang ada pastilah akan sangat jauh berbeda dengan agama-agama yang dikenal saat ini.