SEBAGAI seorang penggemar
filsafat, terkadang menghabiskan waktu luang untuk membaca literasi atau buku
filsafat, menjadi aktivitas yang menyenangkan buat saya. Entahlah, memahami
konsep berpikir beberapa orang, cara mereka membangun wacana, ataupun idealisme
yang dipegang mereka—menjadi suatu bahan perenungan tersendiri. Filsafat memang
tidak selalu memberikan jawaban pasti seperti halnya science, tetapi filsafat menjadi suatu alat yang dapat digunakan
untuk memenuhi dahaga akan keingintahuan dan kekritisan.
Ketika selesai membaca suatu
konsep mengenai idealisme kaum ateis, tiba-tiba saya tertarik untuk membuat
sebuah tulisan singkat. Mungkin bukan suatu risalah filsafat yang mumpuni, tapi
hanya ingin mendiskusikan suatu wacana yang terbesit di pikiran ini.
Pada umumnya, kita mengenal kaum
ateis sebagai penolak konsep ketuhanan. Beberapa orang bahkan menyebutkan
‘tuhan telah mati’ sebagai reaksi akan konsep keagamaan yang menurut mereka
sudah tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia. Mereka percaya kalau diri
mereka memiliki hak sepenuhnya menentukan takdir sendiri. Merenungkan hal-hal
tersebut, saya menjadi berpikir, apakah seorang ateis itu akan selalu hidup
tanpa tuhan?
Lebih lanjut saya mendapatkan ada
tiga konsep dasar yang dipegang kaum ateis dalam menegaskan posisi mereka.
Pertama, mereka tidak percaya akan adanya suatu pribadi atau zat yang
menciptakan semesta, akan suatu oknum mahakuasa yang memiliki peran sentral
dalam kehidupan. Kedua, mereka menolak konsep surga dan neraka. Ketiga, mereka
juga tidak mempercayai konsep alam roh, akan adanya suatu makhluk yang disebut
iblis, malaikat, ataupun jin.
Tiba-tiba suatu pemikiran usil muncul
begitu saja di dalam kepala ini. Kalau seandainya ada konsep ketuhanan yang
bisa mengakomodasi ketiga hal di atas, lalu mungkinkah seorang ateis hidup
beragama? Tentu konsep ketuhanan yang ada pastilah akan sangat jauh berbeda
dengan agama-agama yang dikenal saat ini.