Jumat, 11 Januari 2013

Evolusi Konsep Ketuhanan Memungkinkan Ateis Beragama


SEBAGAI seorang penggemar filsafat, terkadang menghabiskan waktu luang untuk membaca literasi atau buku filsafat, menjadi aktivitas yang menyenangkan buat saya. Entahlah, memahami konsep berpikir beberapa orang, cara mereka membangun wacana, ataupun idealisme yang dipegang mereka—menjadi suatu bahan perenungan tersendiri. Filsafat memang tidak selalu memberikan jawaban pasti seperti halnya science, tetapi filsafat menjadi suatu alat yang dapat digunakan untuk memenuhi dahaga akan keingintahuan dan kekritisan.

Ketika selesai membaca suatu konsep mengenai idealisme kaum ateis, tiba-tiba saya tertarik untuk membuat sebuah tulisan singkat. Mungkin bukan suatu risalah filsafat yang mumpuni, tapi hanya ingin mendiskusikan suatu wacana yang terbesit di pikiran ini.

Pada umumnya, kita mengenal kaum ateis sebagai penolak konsep ketuhanan. Beberapa orang bahkan menyebutkan ‘tuhan telah mati’ sebagai reaksi akan konsep keagamaan yang menurut mereka sudah tidak relevan lagi bagi kehidupan manusia. Mereka percaya kalau diri mereka memiliki hak sepenuhnya menentukan takdir sendiri. Merenungkan hal-hal tersebut, saya menjadi berpikir, apakah seorang ateis itu akan selalu hidup tanpa tuhan?

Lebih lanjut saya mendapatkan ada tiga konsep dasar yang dipegang kaum ateis dalam menegaskan posisi mereka. Pertama, mereka tidak percaya akan adanya suatu pribadi atau zat yang menciptakan semesta, akan suatu oknum mahakuasa yang memiliki peran sentral dalam kehidupan. Kedua, mereka menolak konsep surga dan neraka. Ketiga, mereka juga tidak mempercayai konsep alam roh, akan adanya suatu makhluk yang disebut iblis, malaikat, ataupun jin.

Tiba-tiba suatu pemikiran usil muncul begitu saja di dalam kepala ini. Kalau seandainya ada konsep ketuhanan yang bisa mengakomodasi ketiga hal di atas, lalu mungkinkah seorang ateis hidup beragama? Tentu konsep ketuhanan yang ada pastilah akan sangat jauh berbeda dengan agama-agama yang dikenal saat ini.