Kalau dingat-ingat, buku Haruki Murakami yang saya baca
pertama kali adalah ‘Kafka on the Shore’.
Tapi, baru kali ini, tertarik untuk membahas buku-bukunya Murakami sensei. Yang
membuat saya tertarik dengan sosok Haruki Murakami adalah beliau salah satu penulis
internasional yang banyak memuat unsur eksistensialisme dalam tulisannya.
Karena saya sendiri adalah seorang eksistensialis. Meskipun, memang, dalam gaya penulisan, ia
memainkan teknik sastra postmodern. Beberapa sudut pandang dalam satu cerita, memberikan
pembaca tafsiran sendiri ketika membaca, serta alur yang melompat-lompat—merupakan
sesuatu yang biasa ditemui dalam bukunya.
Ketika membaca ‘Kafka on the Shore’ saya langsung dibuat jatuh hati pada untaian kalimat di
halaman-halaman awalnya:
Terkadang jalan kehidupan seperti badai pasir kecil yang terus berubah arah. Kau berusaha mengubah langkahmu, namun badai pasir itu mengejarmu. Kau berbalik lagi, namun badai pasir itu turut mengikuti. Berkali-kali kau berusaha menghindarinya, seperti sebuah tarian tak berkesudahan sebelum kematian datang. Kenapa? Karena badai tersebut bukanlah sesuatu yang berhembus dari kejauhan, sesuatu yang tidak ada urusan denganmu. Badai itu adalah dirimu sendiri. Sesuatu yang berasal dari dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan adalah menyelaminya, melangkah ke dalam badai itu, pejamkan matamu dan tutupi telingamu sehingga badai itu tidak mengganggumi, dan berjalanlah melewatinya, selangkah demi selangkah. Tidak ada cahaya matahari di sana, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada pengenal waktu. Hanya pasir putih biasa yang berkelebat menuju angkasa seperti bubuk dari tulang-belulang yang telah hancur. Itulah jenis badai yang perlu kau bayangkan.