AKHIR-akhir ini saya sangat tertarik mempelajari beragam teologi kontemporer yang berkembang semenjak era rennaisance. Berikut ini, saya akan mencoba mengangkat mengenai teologi pandeisme. Apa itu teologi pandeisme? Bagi kekeristenan arus mayoritas dan utama, tentu saja faham ini dianggap bidat, tapi tentu tetap menarik dipelajari untuk menambah wawasan.
Ada tiga istilah yang agak mirip, yaitu panteisme, panenteisme, dan pandeisme. Ketiganya memiliki arti yang agak mirip, tapi berbeda konsep. Biar saya jelaskan singkat satu-persatu. Panteisme merupakan suatu faham bahwa segalanya adalah Tuhan, perkembangan dari filsafat monisme yang menganggap entitas Tuhan berkembang menjadi segalanya. Di dalam panteisme, Tuhan di sini tidaklah berarti personal, memiliki sifat atau kehendak. Tuhan adalah semesta kosmik--manusia, makhluk hidup, benda mati, segala yang ada disekitar kita. Panenteisme merupakan faham bahwa Tuhan termanifestasi dalam alam (mirip panteisme), tapi Tuhan juga transenden yang melingkupi semesta. Panenteisme memungkinkan personalitas Tuhan dengan suatu kriteria. Semesta memanifestasikan Tuhan di satu sisi (imanen), tapi di sisi lainnya Tuhan juga melingkupi semesta (transenden).
Sekarang masuk pada pokok bahasan pandeisme. Di dalam pandeisme, Tuhan adalah semesta (mirip panteisme), tapi sebagai manifestasi semata, di dalam karya Tuhan itu nonaktif. Sebenarnya, pandeisme merupakan respon kritik akan faham panteisme Hinduisme yang melanda barat. Henry Grattan Guinness memandang panteisme terlalu naif. Dengan filsafat, Tuhan adalah segalanya & segalanya adalah Tuhan, dipandang olehnya terlalu mengillahikan segalanya. Kalau segalanya bersifat illahi maka hal tersebut sama saja menihilkan arti illahi. Dengan pengertian Tuhan adalah segalanya, tetapi entitas illahi nonaktif--entitas manifestasinya yang aktif--Tuhan tetap menjadi sesuatu yang sakral. Jadi, pandeisme adalah pengkombinasian antara panteisme dan deisme. Sekedar catatan, deisme sendiri merupakan faham akan adanya Tuhan yang menciptakan semesta lalu tak terlibat lagi dalam perkembangan di dalamnya.
Nah, supaya lebih jelas, biar saya terangkan dalam alur teologi kontemporer kristiani. Alkitab mengatakan pada mulanya adalah Tuhan (Awal-Akhir) dalam dimensi kekekalan. Kemudian Tuhan memiliki insiatif untuk menciptakan semesta dengan pertama-tama membentuk ruang dan waktu. Setelahnya ruang-waktu pun tercipta tapi masih digambarkan kosong dan gelap gulita (Kejadian 1:2)
Pertanyaan, klo ruang-waktu masih 'kosong', lalu bagaimana Tuhan mengisinya? Jawabannnya adalah dengan diri-Nya sendiri. Tuhan menjadi material semesta dan dalam suatu ledakan besar, ia perlahan-lahan menjelma menjadi semesta dalam ruang dan waktu yang ada. Darimana kita tahu Tuhan menjelma menjadi semesta dari diri-Nya? Di dalam kitab Kejadian, dalam penjelasan yang bersifat PERUMPAMAAN, setiap kali membentuk isi semesta seperti air, cakrawala, daratan, dsb; Tuhan selalu digambarkan berfirman. Nah, pada saat berfirman itulah Ia mengorbankan sumber daya yang ada pada diri-Nya untuk mengisi ruang dan waktu.
Setelah Ia menjelma dalam waktu yang panjang sampai berkembanglah manusia, di situ Ia menghembuskan nafas-Nya yang berarti memberikan kuasa-Nya pada manusia sehingga mewakili peranan Tuhan di semesta. Karena proses itulah, Tuhan yang telah bermanifestasi dlm semesta menjadi kehabisan energi dan masuk pada Sabat.
Dengan demikian ada beberapa hal yang harus dicermati:
1) Nasib manusia ada ditangan dirinya sendiri. Tuhan telah memberikan kuasa pada manusia atas semesta. Ia tdk menjadi aktif lagi, hanya bermanifestasi dlm semesta.
2) Kita tetap perlu bersyukur kepada Tuhan. Dengan memuji dan menyembah-Nya, berarti kita mengembalikan bagian Tuhan (kemuliaan) yang ada pada diri kita, kembali kepada-Nya.
Demikianlah penjelasan singkat saya mengenai teologi Tuhan kehabisan energi, saya pribadi tidak meyakini hal seperti ini, hanya sekedar iseng membahasnya. Ketika pertama kali mendapat informasi mengenai hal tersebut, saya menganggapnya agak lucu dan unik, makanya saya tulis. Semoga bisa menambah wawasan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar