Sabtu, 30 Agustus 2014

Hakekat Manusia Dalam Pandangan Mistikus Kristiani (Penciptaan, Dualitas, & Non Dualitas)

SETIAP tradisi agama dan kepercayaan memiliki konsep yang khas mengenai penciptaan dan mengapa kita (manusia) ada di dunia.  Perdebatan dan diskusi mengenai awal dan semua yang ada di dunia ini, selalu menjadi suatu topik yang menarik.  Kali ini sebagai seorang yang menggeluti bidang filsafat-teologi, saya ingin membagikan  mengenai keberadaan manusia ditinjau dari sudut pandang mistikus Kristiani. Tentu saja ada banyak aliran di dalam Kristen itu sendiri, dengan berbagai macam sistem teologi dan Kristologi dari awal zaman rasul itu sendiri.  Kali ini saya hanya akan membahas salah satu sistem teologi , yaitu dari aliran ‘New Thought’. Thus, saya lebih suka menyebutnya sebagai mistikus Kristiani.

Kata mistik di sini, jangan disamakan dengan istilah klenik. Tetapi lebih merujuk pada kata ‘misteri’, suatu pencarian.  Mistikus lebih diidentikan sebagai seorang yang melakukan pencarian ke dalam diri, pengenalan batin, olah diri. Mistikus ada di berbagai tradisi lintas iman dan kepercayaan, dogmatik dan non-dogmatik, agama dan non agama,  masing-masing punya suatu konsep pemikiran yang khas.

Mari kita mulai dari apa yang disebut ‘Kitab Suci’. Kitab Suci sejatinya adalah suatu warta iman dari pengalaman batiniah serta sudut pandang sang penulis.  Bukanlah suatu rahasia lagi, kendati banyak memuat rincian sejarah,  tidak semua isi Kitab Suci harus dipandang sebagai suatu hal faktual.  Ada banyak bahasa simbol-simbol di sana, berusaha menjabarkan suatu fenomena dengan bingkai mitologi. Thus, semua itu lagi-lagi adalah alat yang digunakan untuk menjabarkan maksud teologis sang penulis.