Kamis, 05 Mei 2016

Kafka on the Shore: Kepiawaian Murakami Dalam Surealisme

Kalau dingat-ingat, buku Haruki Murakami yang saya baca pertama kali adalah ‘Kafka on the Shore’. Tapi, baru kali ini, tertarik untuk membahas buku-bukunya Murakami sensei. Yang membuat saya tertarik dengan sosok Haruki Murakami adalah beliau salah satu penulis internasional yang banyak memuat unsur eksistensialisme dalam tulisannya. Karena saya sendiri adalah seorang eksistensialis.  Meskipun, memang, dalam gaya penulisan, ia memainkan teknik sastra postmodern. Beberapa sudut pandang dalam satu cerita, memberikan pembaca tafsiran sendiri ketika membaca, serta alur yang melompat-lompat—merupakan sesuatu yang biasa ditemui dalam bukunya.

Ketika membaca ‘Kafka on the Shore’ saya langsung dibuat jatuh hati pada untaian kalimat di halaman-halaman awalnya:

Terkadang jalan kehidupan seperti  badai pasir kecil yang terus berubah arah. Kau berusaha mengubah langkahmu, namun badai pasir itu mengejarmu. Kau berbalik lagi, namun badai pasir itu turut mengikuti. Berkali-kali kau berusaha menghindarinya, seperti sebuah tarian tak berkesudahan sebelum kematian datang. Kenapa? Karena badai tersebut bukanlah sesuatu yang berhembus dari kejauhan, sesuatu yang tidak ada urusan denganmu. Badai itu adalah dirimu sendiri.  Sesuatu yang berasal dari dalam dirimu. Jadi yang dapat kau lakukan adalah menyelaminya, melangkah ke dalam badai itu, pejamkan matamu dan tutupi telingamu sehingga badai itu tidak mengganggumi, dan berjalanlah melewatinya, selangkah demi selangkah. Tidak ada cahaya matahari di sana, tidak ada bulan, tidak ada petunjuk, tidak ada pengenal waktu. Hanya pasir putih biasa yang berkelebat menuju angkasa seperti bubuk dari tulang-belulang yang telah hancur. Itulah jenis badai yang perlu kau bayangkan.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Hakekat Manusia Dalam Pandangan Mistikus Kristiani (Penciptaan, Dualitas, & Non Dualitas)

SETIAP tradisi agama dan kepercayaan memiliki konsep yang khas mengenai penciptaan dan mengapa kita (manusia) ada di dunia.  Perdebatan dan diskusi mengenai awal dan semua yang ada di dunia ini, selalu menjadi suatu topik yang menarik.  Kali ini sebagai seorang yang menggeluti bidang filsafat-teologi, saya ingin membagikan  mengenai keberadaan manusia ditinjau dari sudut pandang mistikus Kristiani. Tentu saja ada banyak aliran di dalam Kristen itu sendiri, dengan berbagai macam sistem teologi dan Kristologi dari awal zaman rasul itu sendiri.  Kali ini saya hanya akan membahas salah satu sistem teologi , yaitu dari aliran ‘New Thought’. Thus, saya lebih suka menyebutnya sebagai mistikus Kristiani.

Kata mistik di sini, jangan disamakan dengan istilah klenik. Tetapi lebih merujuk pada kata ‘misteri’, suatu pencarian.  Mistikus lebih diidentikan sebagai seorang yang melakukan pencarian ke dalam diri, pengenalan batin, olah diri. Mistikus ada di berbagai tradisi lintas iman dan kepercayaan, dogmatik dan non-dogmatik, agama dan non agama,  masing-masing punya suatu konsep pemikiran yang khas.

Mari kita mulai dari apa yang disebut ‘Kitab Suci’. Kitab Suci sejatinya adalah suatu warta iman dari pengalaman batiniah serta sudut pandang sang penulis.  Bukanlah suatu rahasia lagi, kendati banyak memuat rincian sejarah,  tidak semua isi Kitab Suci harus dipandang sebagai suatu hal faktual.  Ada banyak bahasa simbol-simbol di sana, berusaha menjabarkan suatu fenomena dengan bingkai mitologi. Thus, semua itu lagi-lagi adalah alat yang digunakan untuk menjabarkan maksud teologis sang penulis.

Rabu, 24 Juli 2013

Pandeisme: Teologi Tuhan Kehabisan Energi

AKHIR-akhir ini saya sangat tertarik mempelajari beragam teologi kontemporer yang berkembang semenjak era rennaisance. Berikut ini, saya akan mencoba mengangkat mengenai teologi pandeisme. Apa itu teologi pandeisme? Bagi kekeristenan arus mayoritas dan utama, tentu saja faham ini dianggap bidat, tapi tentu tetap menarik dipelajari untuk menambah wawasan.

Ada tiga istilah yang agak mirip, yaitu panteisme, panenteisme, dan pandeisme. Ketiganya memiliki arti yang agak mirip, tapi berbeda konsep. Biar saya jelaskan singkat satu-persatu. Panteisme merupakan suatu faham bahwa segalanya adalah Tuhan, perkembangan dari filsafat monisme yang menganggap entitas Tuhan berkembang menjadi segalanya. Di dalam panteisme, Tuhan di sini tidaklah berarti personal, memiliki sifat atau kehendak. Tuhan adalah semesta kosmik--manusia, makhluk hidup, benda mati, segala yang ada disekitar kita. Panenteisme merupakan faham bahwa Tuhan termanifestasi dalam alam (mirip panteisme), tapi Tuhan juga transenden yang melingkupi semesta. Panenteisme memungkinkan personalitas Tuhan dengan suatu kriteria. Semesta memanifestasikan Tuhan di satu sisi (imanen), tapi di sisi lainnya Tuhan juga melingkupi semesta (transenden). 

Sekarang masuk pada pokok bahasan pandeisme. Di dalam pandeisme, Tuhan adalah semesta (mirip panteisme), tapi sebagai manifestasi semata, di dalam karya Tuhan itu nonaktif. Sebenarnya, pandeisme merupakan respon kritik akan faham panteisme Hinduisme yang melanda barat. Henry Grattan Guinness memandang panteisme terlalu naif. Dengan filsafat, Tuhan adalah segalanya & segalanya adalah Tuhan, dipandang olehnya terlalu mengillahikan segalanya. Kalau segalanya bersifat illahi maka hal tersebut sama saja menihilkan arti illahi. Dengan pengertian Tuhan adalah segalanya, tetapi entitas illahi nonaktif--entitas manifestasinya yang aktif--Tuhan tetap menjadi sesuatu yang sakral. Jadi, pandeisme adalah pengkombinasian antara panteisme dan deisme. Sekedar catatan, deisme sendiri merupakan faham akan adanya Tuhan yang menciptakan semesta lalu tak terlibat lagi dalam perkembangan di dalamnya.