Malam itu adalah awal semuanya. Akan keheningan yang menawan hati, akan pikiran yang banyak bercerita, dan sebuah panggilan untuk menjawab perubahan. Dengan penuh keheningan, saya menatap ke arah cermin, dimana hanya biasan diri yang saya temui. Akhirnya, saya memulai sebuah langkah besar. Sebuah langkah yang juga menjadi sebuah pemberontakan. Malam itu telah menjadikan malam-malam selanjutnya jauh berbeda, karena saya memutuskan untuk melakukan suatu hal yang belum pernah saya lakukan sebelumnya, yaitu MENULIS.
Saya menyadari ada begitu banyak hal yang bisa ditulis, namun pilihan hati menggerakan jemari saya untuk menulis sebuah buku yang kritis. Sebuah loncatan hati akan kegelisahan (sekaligus ketidakpuasan) terhadap sistem institusi keagamaan yang ada selama ini. Dalam mata saya, putih itu tidak berarti terang. Putih itu seringkali hanya fatamorgana biasan aneka tampilan belaka. Putih itu tidak lagi menjadi seputih kelihatannya.